Lembah Bada, Jejak Misterius Leluhur dari Masa 3000 Tahun Lalu

Lembah Bada penuh hamparan savana.Pengunjung dapat menemukan patung-patung raksasa terbuat dari batu tersebar di kawasan ini. Salah satu yang terkenal karena tampak sedang tersenyum disebut Patung Palindo, berarti “sang penghibur”.

Lembah Bada penuh hamparan savana.Pengunjung dapat menemukan patung-patung raksasa terbuat dari batu tersebar di kawasan ini.
Lembah Bada. Image via: travel.tribunnews.com

Keberadaan Arca megalitik ini memancing keingintahuan. Bahkan hingga membersitkan pikiran liar akan teori konspirasi Mulai dari peradaban maju masa lalu, hingga Campur Tangan Alien. Ini diperkuat dengan adanya motif “mirip Alien” pada beberapa peninggalan megalitik di tempat ini.

Keberadaan patung-patung tersebut dipercaya sudah ada semenjak ratusan hingga ribuan tahun. Selain patung tersenyum iconik itu, ada juga lainnya yang berjumlah kurang lebih 400 buah. Pengunjung juga akan menemukan Kalamba, sebuah kolam terbuat dari ukiran batu besar.

Beberapa penelitian dilakukan untuk mengetahui asal muasal patung-patung megalitikum di Lembah Bada. Hingga kini belum diketahui tujuan dibalik pembuatan patung-patung tersebut dan masih menyisakan misteri.

Cerita versi penduduk lokal, mereka percaya bahwa bebetuan tersebut dulunya digunakan untuk ritual pemujaan kepada leluhur. Kisah lain menyebutkan bahwa patung-patung tersebut adalah jelmaan seorang pendosa yang dikutuk menjadi batu.

Savana Lembah Bada tampak indah dan subur terutama di musim hujan
Savana Lembah Bada. Image via: m.medcom.id

Simak juga: tempat wisata di Poso

Lokasi Lembah Bada

Lembah Bada atau Lembah Napu adalah lembah yang terletak di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Lembah ini adalah bagian dari Taman Nasional Lore Lindu.

Lembah Bada terletak di daerah yang relatif datar, yang dikelilingi perbukitan. Sehingga awan yang tertahan di puncak bukit yang mengelilingi lembah menyajikan pemandangan dramatis.

Rute Menuju Lembah Bada

Untuk mencapai ke Taman Nasional Lore Lindu bisa menggunakan mobil pribadi. Unutk mencapai lembah Bada, penunjung harus melakoni perjalanan selama 3 jam jika langsung dari Kota Palu dengan menggunakan mini bus.

Apabila dari Kota Palu menuju arah Kota Poso, bisa ditempuh selama 7-9 jam perjalanan. Dari Kota Poso menuju ke Tentena, kemudian menuju ke Lembah Bada bisa ditempuh selama 3 jam perjalanan. Jarak Lembah dari kota Poso kurang lebih 145 Km yang dapat ditempuh dengan kendaraan berpenggerak empat roda.

Rute menuju lembah bada memerlukan jalan kaki pada bagian akhirnya.
Trekking ke lembah Bada. Image via: indonesiakaya.com

Atau bisa juga dari kabupaten sigi dengan jarak kurang lebih sama dengan menggunakan angkutan umum disambung perjalanan dengan ojek sepeda motor.

Dari lembah Bada perjalanan dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki (trekking) ke Besoa dan Napu. Disarankan kendaraan pribadi harus benar-benar fit karena akses jalan apabila hujan akan berlumpur tebal.

Lembah ini juga dapat dijangkau dengan pesawat dari Makassar ke Poso. Dari Poso dibutuhkan waktu 5 jam dengan kendaraan roda 4, dengan kondisi jalan sudah relatif baik.

Jam Buka Lembah Bada

Lembah Bada adalah sebuah kawasan terbuka yang sangat luas. Bahkan mencakup perkampungan dan tanah pertanian di dalamnya. Karena itu tidak ada ketentuan soal jam buka wilayah ini. Jadi bisa dianggap buka 24 jam, sepanjang pekan.

Kalamba banyak ditemukan di lembah Bada. Kalamba ini ditenggarai sebagai tempat mandi hingga tempat menyimpan makanan
Kalamba. Image via: dolandolen.com

Simak juga: Bukit Barede Borobudur

Tiket Lembah Bada

Tiket masuk TN  Lore Lindu yang mewilayahi Lembah Bada, hanya dipungut saat memasuki lokasi wisata Danau Tambing sebesar Rp5.000/orang.

Untuk tarif dan prosedur lainnya seperti pembuatan film, penelitian, berkemah dan sebagainya diatur tersendiri oleh Kantor Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu.

Fasilitas Lembah Bada

Fasiliats di lembah Bada menjadi 1 kesatua dengan fasilitas di Taman Nasional.

Untuk kepentingan pengunjung, Taman Nasional Lore Lindu dilengkapi beragam fasilitas seperti kantor, pondok jaga, pos jaga, pintu gerbang, pusat informasi, camping ground, wisma tamu, menara pandang, shelter, jalan trail dan lainnya.

Taman Nasional Lore Lindu mendapat dukungan dan bantuan teknis internasional setelah ditetapkan sebagai cagar biosfir atau paru-paru dunia oleh UNESCO tahun 1977.

Daya Tarik Lembah Bada

  1. Situs Megalitik Tertua diIndonesia

tinggalan mehalitik dilembah bada bertebaran bahkan hingga k etengah persawahan warga
Berserak hingga ke persawahan. Image via: travel.dream.co.id

Kawasan megalitik Lore Lindu atau umum dikenal sebagai lembah Bada, adalah yang tertua di Indonesia. Berdasarkan penelitian pada tulang-tulang rangka manusia dalam kubur tempayan batu di situs Wineki di Lembah Behoa, diketahui berasal dari 2351-1416 SM yang kemungkinan punah pada sekitar 1452-1527 M.

Berdasarkan data lapangan Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, ditemukan berbagai tinggalan arkeologi yang telah diidentifikasi. Yaitu, 2007 benda yang terdiri 26 jenis artefak pada 118 situs di empat lembah, termasuk Danau Lindu, di Sulawesi Tengah.

Berdasarkan kajian delineasi yang dilakukan Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, warisan kebudayaan megalitik Lembah Bada tengah diusulkan menjadi warisan budaya dunia.

Megalitik ini berada di wilayah morfologi Pegunungan Telawi dengan 5 satuan ruang: Lembah Napu, Lembah Behoa, dan Lembah Bada yang masuk Kabupaten Poso, serta Lembah Palu dan Danau Lindu di Kabupaten Sigi. Sebagian besar peninggalan itu berada di Taman Nasional Lore Lindu.

  1. Diliputi Misteri

Motiv Alien di Kalambas memebuat penggemar teori konspirasi dan kebudayaan maju purba menjadi dapat angin
Alien di Kalambas. Image via: observerid.com

Simak juga: Wisata Patungkriyono

Terlepas dari tujuan asli keberadaan artefak Megalitik itu, batu yang digunakan untuk mengukir patung tersebut tak ditemukan di tempat lain di dekat daerah tersebut. Hal tersebut menimbulkan dugaan adanya organisasi sosial yang kompleks. Yang memungkinkan mereka melakukan proyek besar.

Pahatan pada megalit tersebut juga dideskripsikan minimalis. Tokoh tersebut biasanya digambarkan memiliki kepala besar dengan tubuh tanpa lekukan serta tanpa kaki. Pada bagian wajah, biasanya digambarkan dengan mata bulat dengan garis tunggal yang merepresentasikan alis, pipi, dan dagu.

Sebagian besar patung tampak berdiri sendiri, namun ada beberapa yang ditempatkan secara berkelompok. Selain dikenal akan patung-patungnya, Lembah Bada juga dikenal akan Kalambanya, yakni tangki melingkar yang dipahat dari sebuah batu besar.

Tinggalan megalitik di lembah bada menjadi makin misterius, karena di zama itu diyakini belum ada peralatan logam
Diukir tanpa alat Logam. Image via: @cempakatrvl

Kalamba dapat ditemukan di beberapa tempat di Lembah Bada dan memiliki bentuk serta ukuran bervariasi. Beberapa memiliki satu lubang di tengahnya, sementara lainnya memiliki dua lubang.

Menurut kepercayaan lokal, Kalamba digunakan sebagai bak berendam untuk para petinggi atau raja. Sementara yang lainnya menduga bahwa benda tersebut dulunya digunakan sebagai peti mati atau tangki air.

Tutup terbuat dari batu sering ditemukan di dekat Kalamba, dan muncul dugaan bahwa benda tersebut digunakan untuk menutupi Kalamba sehingga tak mungkin digunakan sebagai bak berendam.

Bahkan yang menarik, ada situs megalitik kalamba Tadulako di Lembah Palu, gambar motifnya alien. Selain unik, masih penuh tanda tanya

  1. Legenda Lokal

warga lokal lembah bada memeiliki legenda sendiri mengenai asal usul masing masing arca besar di kawasan mereka
Penjaga desa yang khianat. Image via: nanook.travel

Simak juga: Benteng Kalamata Ternate

Masyarakat lokal percaya bahwa batu itu dulunya digunakan untuk melakukan pemujaan terhadap leluhur. Tak hanya itu, para penduduk juga mempunyai kisah tentang asal-usul terbentuknya masing masing situs megalit tersebut.

Sebuah cerita mengatakan bahwa terdapat megalit bernama Tokala’ea yang dulunya merupakan pemerkosa, akhirnya dikutuk menjadi batu.

Sementara itu, terdapat cerita tentang megalit lain bernama Tadulako. Masyarakat mengatakan bahwa dulunya Tadulako dikenal sebagai penjaga desa, tetapi setelah mencuri beras ia dikutuk menjadi batu.

Cerita lain mengaitkan megalitik dengan pengorbanan manusia. Beberapa orang juga percaya bahwa batu tersebut dimaksudkan untuk menangkal roh jahat, sementara yang lain mengklaim bahwa benda tersebut memiliki kekuatan supranatural dan mempu menghilang atau berpindah tempat.

Palindo, Torompana, Tarae Roe, dan Loga adalah sederet nama pemberian penduduk lokal untuk patung-patung kuno tersebut. Kisah unik pun turut menyertai setiap patung yang ada di lembah Bada, salah satunya Palindo. Dulunya, masyarakat lembah Bada percaya bahwa Palindo berdiri tegak.

Para tetua di Desa Sepe percaya bahwa patung Palindo yang berarti sang penghibur dalam bahasa setempat adalah representasi dari penduduk pendahulu mereka, yaitu suku Tosaloge.

  1. Masyarakat Adat

rumah adat piramid Suku Lore tinggal di kawasan Lembah Bada
Rumah Adat. Image via: adira.co.id

Terdapat Suku Lore tinggal di kawasan Lembah Bada, yang masih memegang kental adat istiadat. Kalau singgah di area ini, mereka akan dengan senang hati mempersilahkan tamu untuk menginap di tempat tinggal tradisional Suku Lore, yaitu rumah Tambi dengan bentuk unik.

Rumah Tambi berbentuk panggung seperti piramida. Tidak ada dinding seperti rumah pada umumnya, karena atapnya juga berguna sebagai dinding. Bangunan terbuat dari kayu dan bambu, sedangkan atap berbahan daun rumbia atau ijuk.

Tips Mengunjungi Lembah Bada

Jika bisa, pengunjung sebaiknya menjadwalkan kunjungan ke lembah Bada di bulan Juli hingga September. Saat itu Anda dapat menyaksikan atraksi budaya di luar Taman Nasional Lore Lindu saat Festival Danau Poso pada bulan Agustus.

Ritual sebelum memindahkan Arca di sungai sekitar lembah bada
Ritual sebelum memindahkan Arca. Image via: mongabay.co.id

SImak juga: Pusat Laut Donggala

Objek Wisata Dekat Lembah Bada

Tidak hanya savana indah berhiaskan situs megalitik, Kabupaten Poso juga memiliki air terjun yang alirannya cukup deras. Salah satunya adalah Air Terjun Sulewana. Letak Air Terjun Sulewana 10 kilometer dari Danau Poso. Untuk mencapai air terjun ini juga kamu perlu berjalan kaki sekitar 10-15 menit dari tempat parkir.

Ada juga air terjun lain, yaitu  Air Terjun Saluopa. Air Terjun Saluopa tampil menakjubkan dengan 12 tingkat luncuran yang bisa didaki satu per satu. Hal ini pula yang membuat Air Terjun Saluopa dijuluki Air Luncur.

Lembah Bada adalah kawasan paling bikin Kepo di Sekitaran palu, yang tidak boleh untuk dilewatkan. Penasaran dengan keindahannya? Ayo datang kesini, ajak teman, sahabat, dan keluarga menikmati kawasan ini!

Baca juga:

Artikel lainnya:

Leave a Comment