Kampung Naga, Saat Menjaga Wasiat Leluhur Adalah Pilihan Utama

Saat berwisata ke Jawa Barat khususnya Tasikmalaya, pengunjung akan dapat menemukan sebuah lokasi wisata unik. Lokasi ini berupa perkampungan tradisional. Kampung yang terkenal karena kearifan lokalnya ini bernama Kampung Naga.


Jangan bayangkan di kampung ini akan ada patung naga besar sebagai simbol kampung. Justru di kampung ini sama sekali tidak ada icon yang melambangkan naga. Kampung Naga masih mempertahankan kearifan lokal dan budaya yang mereka jaga sejak zaman nenek moyangnya.

Kampung Naga
Kampung Naga. Image via: @amazingtasikmalaya

Kampung ini sebenarnya bukan kampung wisata, karena penduduk tidak ingin kehidupan mereka terganggu oleh riuhnya pariwisata. Namun masyarakat terlanjur suka mengunjungi Kampung ini.

Dahulu Kampung Naga ditutup untuk orang luar, karena mereka tidak mau kehidupan mereka dipengaruhi oleh gaya kehidupan luar. Kampung ini masih Lestari masyarakatnya memegang adat istiadat nenek moyang. Mereka menolak intervensi pihak luar dalam hal mencampuri dan merusak kelestarian Kampung mereka. Bahkan sampai listrik pun mereka tolak. Tidak ada aliran listrik di Kampung ini.

Lumbung
Lumbung di persawahan. Image via: negerisendiri.com

Simak: daftar tempat wisata di Garut

Sejarah Kampung Naga

Warga kampung Naga sendiri menyebut sejarah kampungnya dengan istilah “Pareum Obor”. Pareum jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu mati, gelap. Dan obor itu sendiri berarti penerangan, cahaya, lampu. Jika diterjemahkan secara singkat yaitu, Matinya penerangan. Hal ini berkaitan dengan sejarah kampung naga itu sendiri.

Mereka tidak mengetahui asal usul kampungnya. Masyarakat kampung naga menceritakan bahwa hal ini disebabkan oleh terbakarnya arsip/sejarah mereka pada saat pembakaran kampung naga oleh Organisasi DI/TII Kartosoewiryo.

Pada saat itu, DI/TII menginginkan terciptanya negara Islam di Indonesia. Kampung Naga yang saat itu lebih mendukung Soekarno dan kurang simpatik dengan niat Organisasi tersebut. Oleh karena itu, DI/TII yang tidak mendapatkan simpati warga Kampung Naga membumihanguskan perkampungan tersebut pada tahun 1956.

kampung naga
Asrinya suasana kampung. Image via: @petualangcantik_tasik

Adapun beberapa versi sejarah yang diceritakan oleh beberapa sumber diantaranya, pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah. Seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana.

Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga. Namun masyarakat kampung Naga sendiri tidak meyakini kebenaran versi sejarah tersebut, sebab karena adanya “pareumeun obor” tadi.

Hutan Larangan dan Hutan Keramat

Hutan larangan
Hutan Larangan di seberang Sungai Ciwulan. Image via: kebudayaankesenianindonesia

Baca: daftar tempat wisata di Tasikmalaya

Selama ini mungkin kita sering mendengar soal Hutan Larangan di Kampung Naga. Sebenarnya di kampung ini ada 2 hutan, yaitu hutan larangan dan hutan keramat.

Kampung Naga diapit dua bukit dan di sisi Sungai Ciwulan. Di seberang  sungai itu terdapat bukit kecil yang dipenuhi pohon-pohon yang tampaknya berumur sangat tua. Itulah hutan yang oleh masyarakat Kampung Naga  disebut dengan Leuweung Larangan atau hutan larangan. Sementara di sebelah barat atau di belakang perkampungan terdapat HutanKeramat.

Hutan Larangan, yang terletak di sebelah timur pemukiman, disebut sebagai hutan tempat para dedemit. Para dedemit itu mulanya menempati areal yang dihuni masyarakat Kampung Naga. Namun oleh Mbah Dalem Singaparana, para dedemit itu dipindahkan ke hutan tersebut. Leuweung Larangan merupakan tempat yang sama-sekali dilarang untuk diinjak oleh siapa pun, khususnya warga Kampung Naga. Jangankan memasukinya, menginjakkan sebelah kaki pun merupakan merupakan pantangan yang sangat keras.

Wajah Kampung Naga
Wajah Jernih Penjaga Wasiat Leluhur. Image via: tripadvisor

Posisi perkampungan tidak secara langsung berhubungan dengan kedua hutan tersebut. Leuweung Larangan dibatasi oleh sebuah Sungai Ciwulan,  sedangkan Leuweung Keramat dibatasi oleh tempat masjid, ruang pertemuan dan Bumi Ageung (tempat penyimpanan harta pusaka).

Leuweung Larangan di arah timur dan leweung Keramat di arah barat merupakan sumber kekuatan sakral kehidupan keseharian mereka.

Lokasi Kampung Naga Tasikmalaya

Kampung Naga ada di desa Neglasari. Tepatnya di sebuah Lembah seluas 1,5 hektar, di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Letaknya dekat dengan jalan raya yang menghubungkan antara Garut dan Tasikmalaya

Keseharian penduduk
Keseharian penduduk kampung naga. Image via: tripadvisor

Rute ke Kampung Naga Tasikmalaya

Jika berangkat dari Jakarta saat akan mengunjungi Kampung Naga untuk mencapai tempat itu pengunjung bisa menempuh perjalanan melewati rute tol Cikampek. Kemudian dari tol Cileunyi pengunjung terus menuju Garut melewati Nagreg. Dari Garut lanjutkan perjalanan sampai ke Cilawu kemudian Akhirnya sampai di lokasi Kampung Naga.

Jika datang dari Bandung maka rute yang diambil adalah dari Cileunyi ke arah Rancaekek, kemudian ke Garut melalui Nagreg. Dari Garut tinggal melanjutkan perjalanan ke arah Cilawu dan mengakhirinya di lokasi Kampung Naga

Tiket Masuk Kampung Naga

Secara resmi, Kampung Naga sesungguhnya bukanlah objek wisata. Karena itu untuk datang ke tempat itu tidak ada tiket masuk alias gratis. Namun sebagai bentuk dukungan kepada keberadaan Kampung tradisional ini, akan sangat baik jika pengunjung berkontribusi untuk perekonomian desa dengan membeli oleh-oleh berupa cenderamata khas dari Kampung Naga.

Kegiatan adat
Kegiatan adat kampung naga. Image via: inilahkoran.com

Jam Buka Kampung Naga

Setiap hari, 24 jam sehari. Pengunjung bsia menginap, dengan terlebih dahulu meminta ijin.

Keunikan Kampung Naga

1. Kampung di Bawah Bukit

Ada yang mengatakan jika kata naga sebagai nama kampung naga, berasal dari lokasi kampung yang berada di bagian tebing. Dalam bahasa Sunda disebut “gawir”. Dari situ, masyarakat menyebut kampung ini dengan nama Kampung Nagawir. Kampung Ngawir artinya kampung jurang. Lama kelamaan karena mengatakan Nagawir relatif sulit, nama itu diucapkan menjadi Kampung Naga.

Kawasan kampung naga menawarkan suasana alami dan penuh ketenangan. Ditambah lagi, mayoritas warga di kampung ini bermata pencaharian sebagai petani. Sehingga hamparan sawah hijau yang luas akan menyambut pengunjung ketika datang ke tempat ini.

2. Tidak ada Jaringan Listrik

Perumahan tanpa listrik
Perumahan tanpa jaringan listrik. Image via: idtransbandung

Salah satu hal yang mencolok dari Kampung Naga adalah tidak adanya aliran listrik. Suasana malam yang remang-remang menjadi hal yang biasa di sini. Kondisi kampung tanpa penerangan listrik memang menjadi pilihan masyarakat setempat. Hal ini mereka lakukan sebagai cara untuk menjaga tradisi para leluhurnya.

Tidak hanya listrik, masyarakat di Kampung Naga juga enggan menggunakan tabung gas LPG sebagai sarana untuk memasak. Alasannya, karena hal tersebut bisa berakibat buruk pada suasana lingkungan. Terutama berkaitan dengan rumah-rumah warga yang memiliki desain tradisional dan terbuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar.

3. Desain rumah yang Unik

rumah warga
Desain rumah panggung. Image via: negerisendiri.com

Rumah-rumah warga di Kampung Naga berupa rumah tradisional yang terbuat dari bahan-bahan, seperti kayu, bambu, dan atap dari daun nipah ataupun ijuk. Rumah rumah penduduk tidak memilki perabotan. Di dalam rumah tidak akan bisa menemukan kursi, meja, tempat tidur, atau perabotan lain.

Kandang ternak dan kamar mandi juga harus berada di luar area tempat tinggal. Selain itu, rumah hanya diperbolehkan menghadap ke arah utara dan selatan. Tidak heran kalau dari segi penataan kampung, tempat ini memiliki desain yang lebih rapi dibanding dengan deretan rumah warga yang ada di tempat lain.

4. Jumlah Bangunan yang Tetap

Masjid Panggung
Masjid Kampung. Image via: harnas.co

Di kampung ini, Anda hanya akan mendapati sebanyak 113 bangunan. Hal ini memang menjadi aturan tersendiri di sana. Jumlah bangunan tersebut terdiri dari 110 bangunan tempat tinggal serta, 3 bangunan untuk fasilitas umum, seperti; balai pertemuan, lumbung padi, dan masjid.

Objek Wisata Dekat Kampung Naga

Setelah puas menikmati wisata budaya di Kampung naga, dan jika masih ada waktu dan semangat untuk menjelajah objek wisata lain, di sekitaran tasik malaya masih tersedia objek lainnya.

Objek pertama, ada Kawah Talaga Bodas. sebuah objek wisata danau dan kawah di Desa Sukamenak, Kecamatan Wanaraja, Garut. Jaraknya sekitar 15,3 km dari Kampung Naga.

Demikian kami berbagi mengenai keunikan kampung naga tasikmalaya. Sungguh sebuah pengalaman luar biasa jika bisa berkunjung ke lokasi ini. Namun mohon diingat selama berada di sini, perhatikan Pamali Pamali yang ada. Seperti dilarang mandi di bagian tertentu dari sungai, dilarang memasuki kawasan utan larangan, dilarang kencing dan BAB mengahadap arah barat, dan juga dilarang berfoto di lokasi lokasi yang dpandang keramat.

Baca juga:

Artikel lainnya:

1 thought on “Kampung Naga, Saat Menjaga Wasiat Leluhur Adalah Pilihan Utama”

  1. BENTUK RUMAH TRADISIONAL DAN ADAT ISTIADAT MASYARAKAT KAMPUNG NAGA SANGAT MIRIP DENGAN SUKU BADUY ATAU URANG KANEKES rANGKASBITUNG, bANTEN. aPAKAH MEMANG ADA HUBUNGANNYA ANTARA KE DUA KOMUNITAS TRADISIONAL ITU?

Leave a Comment