Legend! Usia Taman Margasatwa Kinantan Satu Abad Lebih

Jujur saja kebanyakan orang dewasa sangat minim ketertarikan terhadap objek wisata bertema margasatwa apalagi budaya.

Orang dewasa yang berkunjung rata-rata mereka yang sudah mempunyai anak, itupun dengan tujuan memberikan edukasi terhadap anak mereka.

Kebanyakan usia dewasa lebih senang dengan wisata teknologi, atau bersifat kekinian. Dan  Wisata alam favorit yang sering dikunjungi paling pantai dan gunung.

Untuk merubah hasrat wisata dari yang itu-itu saja, coba deh baca artikel ini sampai tuntas. Jangan “males” dulu kalau artikel ini akan membahas kebun binatang dan budaya, karena objek wisata yang satu ini berbeda dan sangat legend.

Namanya Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan, terkadang disebut juga Kebun Binatang Bukittinggi.

Gerbang Utama Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan
Gerbang Utama Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan. Sumber : id.wikipedia.org

Ada beberapa hal yang menjadikan objek wisata ini menjadi unik dan legend. Diantaranya :

  • Menjadi salah-salah satu kebun binatang tertua yang ada di Indonesia
  • Terdapat rumah adat di area taman margasatwa
  • Terdapat sebuah jembatan yaitu “jembatan Limpapeh” yang menghubungkan dua destinasi wisata bersejarah antara Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan dengan Benteng Fort De Kock.

Tiga hal tersebut yang menjadikan area kinantan menjadi beda dengan kebun binatang lainnya serta berdampak terhadap banyaknya kunjungan wisatawan ke lokasi tersebut.

ema Margasatwa Dan Budaya Dalam satu Kawasan
ema Margasatwa Dan Budaya Dalam satu Kawasan. Sumber : www.harganas2020.com

Terdapat sebuah tulisan “Kota Wisata” di gapura utama Taman Margasatwa dan Budaya seakan menasbihkan bahwa Bukittinggi kaya akan khazanah wisata yang sangat layak untuk dikunjungi, dan fakta berkata demikian.

Koleksi satwa di kebun binatang Bukittinggi merupakan kebun binatang dengan koleksi terlengkap yang ada di Sumatera. Dari mulai kelompok hewan karnivora, herbivora, maupun omnivora ada di Kinantan.

Keunggulan Berkunjung Ke Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan

Objek wisata ini memiliki keunggulan sebagai pemikat bagi para wisatawan untuk datang berkunjung. Diantaranya :

1. Nilai Histori

Usia Taman Margasatwa dan Budaya  Kinantan atau disebut juga Kebun Binatang Bukittinggi telah berumur satu abad lebih. Sungguh menjadi sebuah perjalanan panjang yang syarat dengan nilai sejarah.

Meskipun satwa-satwa baru mulai dikoleksi pada tahun 1929, tetapi pembangunan pertama area ini diawali pada tahun 1900 meskipun baru hanya sebatas kebun bunga.

Pada akhirnya penulis berpendapat bahwa kebun bunga adalah cikal bakal lahirnya taman margasatwa di area tersebut, sehingga usia objek wisata ini sudah berumur satu abad lebih jika dihitung dari tahun 1900 sampai tahun 2020.

Berbeda halnya dengan usia rumah adat yang ada di area tersebut, pembangunan baru dimulai tahun 1935, Jadi baru berusia 85 tahun.

Nilai histori selanjutnya bahwa objek wisata ini dibangun saat masa penjajahan Belanda masih ada di Indonesia.

 

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Sumber : www.trepelin.com

2. Nilai Budaya

Keberadaan Rumah Adat Baanjuang atau yang lebih dikenal dengan nama Rumah Gadang yang letaknya dalam satu kawasan mampu menjadikan area ini menjadi destinasi yang multiwisata.

Rumah Adat Baanjuang Di Area Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan
Rumah Adat Baanjuang Di Area Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan. SUmber : twitter.com

3. Nilai Edukasi

Kandungan nilai sejarah dan budaya, maka menjadikan objek wisata Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan menjadi wisata edukasi untuk semua kalangan.

Apalagi jika perjalan diteruskan melewati “jembatan Limpapeh”, maka edukasi pengunjung akan bertambah dengan kehadiran objek wisata Benteng Fort De Kock.

Nilai histori, budaya, alam, dan edukasi berpadu dalam satu kawasan. Sungguh menjadikan objek wisata ini sangat mempesona.

Sejarah Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan

Pada tahun 1900 seorang Asisten Residen Agam yang bernama Storm Gravenande merancang dan membangun sebuah kebun bunga yang terletak di Bukit  Malambuang. Dan pada akhirnya kebun bunga ini diberi nama sesuai nama sang perancang, yaitu “Stormpark”.

Lanjut, pada tanggal 3 Juli 1929 Dr. J. Hock merubah nama lokasi tersebut menjadi Fort De Kocksche Dieren Park dan menambah fungsi kebun bunga menjadi kebun binatang seiring dengan masuknya beberapa koleksi binatang.

Masih dalam satu area, pada tahun 1935 dibangun Rumah Adat Baanjuang Atau Rumah Gadang sebagai cikal bakal lahirnya wisata budaya dalam satu area.

Fort De Kocksche Dieren Park kemudian bergan nama menjadi Taman Puti Bungsu, dan akhirnya pada tahun 1995 nama tersebut dirubah menjadi Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan.

Ragam Wisata

1. Kebun Binatang / Margasatwa

Sesuai nama lokasi wisata, maka tentu saja suguhan utamanya adahal tentang satwa-satwa yang ada di kawasan tersebut.

Tidak usah diragukan lagi satwa apa saja yang ada di Kinantan, semuanya lengkap. Dari mulai satwa yang besar sampai yang kecil, pemakan tumbuhan saja, pemakan daging saja, sampai hewan pemakan tumbuhan dan daging semua lengkap tersaji.

Manfaatkan kunjungan ke Kebun Binatang ini menjadi momentum kebersamaan, kebahagiaan, namun berbalut edukasi, baik bersama keluarga maupun teman-teman.

Sebagai sebuah catatan, protokol keamanan sudah diperhitungkan dan ditetapkan oleh pihak pengelola. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka pengunjung tinggal mematuhi protokol tersebut.

Dan jangan pernah menjahili atau “mendzalimi” hewan-hewan yang ada di sana, selain akan menyandang sebagai “pengunjung tak beradab”, tetapi akan beresiko secara hukum juga.

Harimau Sumatera Salah satu Koleksi Margasatwa
Harimau Sumatera Salah satu Koleksi Margasatwa. Sumber : republika.co.id

2. Rumah Adat Baanjuang / Rumah Gadang

Spot wisata selanjutnya adalah spot yang mengandung nilai budaya, yaitu Rumah Adat Minangkabau yang diberi nama “Baanjuang” atau “Rumah Gadang”.

Bangunan ini merupakan bangunan tradisional yang ada di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Ada juga yang menyebut bangunan tradisional ini dengan nama “Rumah Bagonjong”.

Rumah Adat mempunyai ketentuan tersendiri, baik konsep bangunan maupun secara fungsi. Inilah yang menjadi pembeda dengan rumah-rumah biasa.

Di dalam Rumah Adat Baanjuang di area wisata Taman Margasatwa dan Budaya terdapat banyak sekali koleksi barang yang mengandung nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Dan yang luar biasa terdapat perhiasan serta alat kesenian khas Minang di dalam Rumah Bagonjong tersebut.

Rumah Gadang
Rumah Gadang. Sumber : www.flickr.com

3. Jembatan Limpapeh

Sebuah  jembatan eksotis yang menghubungkan dua objek wisata legendaris, yaitu Taman Margasatwa Dan Budaya dengan Benteng Fort De Kock.

Jembatan Limpapeh
Jembatan Limpapeh. Sumber : id.wikipedia.org

Alamat Dan Lokasi

Alamat dan lokasi Taman Margasatwa Dan Budaya berada di Jalan Cindua Mato Kelurahan Benteng Pasar Atas Kecamatan Guguk Panjang Kota Bukittinggi Provinsi Provinsi Sumatera Barat Kode Pos 26136.

Tiket

Harga tiket masuk per orang adalah sebesar Rp.10.000

Jam Operasional

Taman Margasatwa Dan Budaya Kinantan buka dari pukul 08.00-18.00 WIB, dari hari Senin-Minggu tetap buka.

Penutup

Sejatinya sebuah sejarah dapat ditelusuri melalui jejak peninggalanya, baik bangunan, prasasti, ataupun karya lainya.

Peradaban yang maju adalah orang yang tahu tentang sejarah bangsanya. Oleh karena itu Taman Margasatwa Dan Budaya kinantan harus mampu terawat dari generasi ke generasi.

Menjaga dan merawat bangunan sejarah dan budaya bukan hanya tugas pengelola dan pemerintah saja, termasuk menjadi kewajiban bagi para wisatawan untuk mampu menjaganya.

Terakhir, selamat berlibur, dan buanglah sampah pada tempatnya ya….

Baca juga:

Leave a Comment