Benteng Kuto Besak, Jejak Perjuangan Melawan Penjajahan

| | ,

Selain di Yogya dan Solo, Palembang juga punya bangunan peninggalan masa kerajaan. Salah satu nya adalah Keraton Benteng Kuto Besak yang bersejarah.

Benteng Kuto Besak mempunyai ukuran panjang 288,75 meter dan tinggi 9,99 meter (30 kaki) serta tebal 1,99 meter (60 kaki). Di setiap sudut terdapat bastion yang terletak di sudut barat laut bentuknya berbeda dengan tiga bastion lainnya. Tiga bastion yang sama tersebut merupakan ciri khas bastion Benteng Kuto Besak. Di sisi timur dan selatan dan barat terdapat pintu masuk benteng, pintu masuk gerbang utama yang menghadap ke sungai Musi disebut lawang Kuto dan pintu masuk lainnya disebut lawang buritan.

Kawasan pelataran di depan Benteng Kuto Besak ditata sedemikian rupa oleh pemerintah kota Palembang, menjadi sebuah plaza alias alun-alun yang bisa digunakan wisatawan untuk beraktivitas. Terkadang destinasi ini juga menjadi lokasi penyelenggaraan acara atau festival dengan panggung hiburan dengan latar Sungai Musi dan Jembatan Ampera yang mempesona. Kemeriahan para wisatawan yang datang jadi pemandangan umum yang bisa disaksikan bila bertandang ke sana.

Benteng Kuto Besak
Benteng Kuto Besak. Image via: kgsismail

Saat malam tiba, kawasan Benteng Kuto Besak dipenuhi oleh pedagang pasar malam yang menjajakan dagangan. Pengunjung bisa berburu kuliner khas di sini, berupa pempek, atau pun aneka jenis kuliner kaki lima lainnya yang tak kalah lezat.

Pindang patin
Ada yang mau masak ikan Patin?. Image via: @bghits.plg

Untuk menikmati pengalaman yang lebih otentik, pengunjung bisa makan malam di atas kapal restoran terapung. Suasana akan terasa lebih dramatis karena cahaya dari deretan lampu-lampu taman menciptakan refleksi warna kuning pada permukaan sungai.

Baca juga: daftar tempat wisata di Palembang

Sejarah Benteng Kuto Besak

Kuto Besak adalah bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang. Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besak diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758.

Pelaksanaan pembangunan diselesaikan oleh sang penerus yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803. Sultan Mahmud Bahauddin ini adalah seorang Sultan Palembang Darussalam yang realistis dan praktis dalam perdagangan internasional. Beliau juga seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagai pusat sastra agama Islam di Nusantara.

Keraton ini mulai dibangun pada tahun 1780 dengan arsitek yang tidak diketahui dengan pasti dan pelaksanaan pengawasan pekerjaan dipercayakan pada seorang Tionghoa. Semen perekat bata menggunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur. Waktu yang dipergunakan untuk membangun Kuto Besak ini kurang lebih 17 tahun. Keraton ini ditempati secara resmi pada hari Senin pada tanggal 21 Februari 1797.

Penjaga KNIL
Penjagaan KNIL di Masa Kolonial. Image via: mypalembang

Berbeda dengan letak keraton lama yang berlokasi di daerah pedalaman, keraton baru berdiri di posisi yang sangat terbuka, strategis, dan sekaligus sangat indah.

Setelah kesultanan Palembang dikuasai penuh oleh penjajah, penjajah berniat mendirikan benteng pertahanan. Namun karena kesulitan sumber daya, akhirnya Belanda memanfaatkan keraton dengan merubah fungsinya menjadi Benteng.

Lokasi Benteng Kuto Besak

Bangunan bersejarah ini berlokasi di Jalan Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit Kecil, Palembang, Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Tiket Masuk Benteng Kuto Besak

Bangunan inti Benteng Kuto Besak tidak bisa dikunjungi oleh umum. Karena benteng itu sekarang menjadi markas militer. Yang bisa dikunjungi adalah plasa Benteng Kuto Besak di depan benteng.

Untuk memasuki lokasi ini pengunjung dikenakan biaya Rp 5.000,-.

Jam Buka Benteng Kuto Besak

Plasa di depan benteng merupakan halaman terbuka, semacam alun alun, ada berbagai kegiatan ditempat itu. Karena banyaknya kegiatan itu, maka lokasi ini buka 24 jam sehari.


Simak: review wisata Bukit Siguntang

Fasilitas Benteng Kuto Besak

Untuk bagian dalam benteng, fasilitas wisata tidak ada. Bagian dalam benteng tidak bisa dikunjungi oleh umum, karena difungsikan sebagai pangkalan militer.

Namun di depan benteng banyak disediakan fasilitas wisata, seperti Plaza, bangku bangku duduk, penjual makanan ringan, penjual makanan berat, sampai fasilitas penyewaan perahu pelayaran wisata di sungai Musi.

jembatan-ampera
Jembatan Ampera di malam hari. Image via: pergiberwisata.com

Struktur Bangunan Benteng Kuto Besak

Kuto Besak adalah Keraton yang terakhir dibangun kesultanan Palembang sebelum hancur dikuasai penjajah. Keraton ini berdiri pada 1780, atas prakarsa Sultan Muhammad Bahauddin. Keraton ini berdiri di tanah yang luas, berbentuk persegi panjang menghadap ke Sungai Musi, panjangnya 274,32 meter, dan lebar 182,88 meter.

Benteng dikelilingi tembok besar, tingginya mencapai 9,14 meter, tebal 2,13 meter. Dengan empat kubu (bastion di setiap sudut). Dilengkapi dengan sejumlah meriam yang terbuat dari besi dan kuningan. Keraton memiliki pelataran yang luas, balai agung, gerbang besar. Di dalamnya terdapat pula keputren, paseban, ruang tempat menerima tamu, tempat kediaman sultan dan permaisuri.

Di tengah keraton terdapat kolam dengan perahu, taman, dan pohon buah-buahan. Di antara keraton Kuto Besak dan keraton Lama, terdapat jalan menuju mesjid utama kerajaan

Balai Agung terdapat di komplek keraton, yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu-tamu penting, sekaligus tempat sultan melakukan “hajatan”. Hajatan itu termasuk tempat penobatan Sultan. Pada peristiwa penting seperti itu, singgasana sultan dan segala atribut (payung sutera kuning dan lainnya) telah disiapkan.

Singgasana sultan berada pada posisi lebih tinggi tiga kaki (91 senti meter) dari lantai. Panji-panji kerajaan juga dikibarkan di dinding keraton. Sementara itu, perahu kebesaran dengan warna-warni indah telah siap di pinggir Sungai Musi di depan keraton.

depan benteng
Foto di depan benteng. Image via: tripadvisor.

Sisi depan benteng terdapat “tangga dalem” yang digunakan Sultan untuk menuju ke dermaga Sungai Musi dan di bagian ujung dari tangga dalem tersebut terdapat “tangga raja” yaitu gerbang yang beratap limas.

Di depan Kuto Besak ada sebuah alun-alun yang dinamakan “meidan”, sedang di dekat pintu gerbang utama diletakkan meriam-meriam dengan posisi berjajar. Bangunan yang disebut “pamarakan” atau “pasebaban” dapat ditemui di sisi kanan gerbang.

Bangunan ini merupakan tempat menyampaikan “seba” dan tempat untuk menggelar upacara kebesaran. Karena itu pada bangunan pamakaran dilengkapi dengan “balai seri atau “balai bandung”, berupa tempat duduk Sultan.

Demikian, gambaran sekilas tentang keraton terpenting di Kesultanan Palembang.

Aktivitas Wisata Menarik di Benteng Kuto Besak

Meskipun tidak dapat melihat bentuk bangunan benteng secara detail, karena wilayah dalam benteng saat ini menjadi markas militer, pengunjung dapat menikmati kemegahan dari bangunan ini dengan berada di pelataran atau yang dikenal dengan nama Plaza Benteng Kuto Besak.

Menyaksikan keindahan Landscape Kota Palembang

Jembatan ampera dari kejauhan
Jembatan Ampera dari Kejauhan. Image via: @jelajahpalembang__

Dari lokasi ini pengunjung dapat menyaksikan keindahan suasana Kota Palembang. Mulai dari hamparan sungai Musi yang berhias lalu-lalang kapal di tengahnya hingga menikmati keindahan jembatan Ampera yang berwarna merah menyala dilihat dari kejauhan.

Keindahan pemandangan yang dilihat dari tempat ini, membuat Benteng Kuto Besak setiap hari ramai dikunjungi warga setempat, terutama pada sore dan malam hari. Selain melihat suasana Kota Palembang dari kejauhan, di sini pengunjung juga dapat berjalan di sekeliling Plaza Benteng Kuto Besak sambil menikmati berbagai macam kuliner dari para pedagang kaki lima

Kuliner Kaki Lima

kuliner kaki lima
Kuliner kaki lima. Image via: @palembang.sumsel.ssci

Diantara para pedagang kuliner di Plaza Benteng Kuto Besak, yang menarik perhatian adalah pedagang mie tektek. Hal tersebut selain disebabkan karena jumlah penjual  makanan ini lebih banyak dibanding penjual makanan yang lain, juga karena semua pedagang mie tektek menggunakan tempat duduk berupa kursi-kursi kecil berwarna-warni sehingga cukup menarik untuk dilihat.

Sentra kuliner lainnya adalah dermaga point yang merupakan pelabuhan di dekat Benteng Kuto Besak. Dermaga berlantai dua ini diisi sejumlah tenant yang menjual aneka franchise food mulai dari ayam goreng, donut, roti, pizza serta yang lain Karena menjadi tempat keluar masuknya kapal yang oleh warga Palembang disebut Ketek, wisatawan yang ingin berkeliling Sungai Musi, harus terlebih dahulu menuju ke dermaga point. Itu sebabnya tempat ini menjadi favorit anak-anak muda untuk nongkrong dan melihat para penumpang yang keluar masuk kapal.

Restoran terapung

restoran terapung
Restoran terapung sungai musi. Iamge via: sindonews.com

Bagi yang ingin bersantap dengan suasana berbeda, restoran terapung “River Side” bisa menjadi pilihan. Lezat nya makanan ditambah suasana romantis yang dihadirkan Sungai Musi di sekeliling restoran, membuat Riverside sangat pas untuk dijadikan tempat makan yang penuh kenangan. Suasana romantis tersebut semakin terasa lewat kerlap-kerlip lampu kapal di kejauhan yang menyerupai kerlap-kerlip Lilin

Nikmati Malam di Plaza Benteng Kuto Besak

Plaza ketika malam
Plaza ketika malam. Image via: travel.detik

Semakin malam, suasana yang menyelimuti Plaza Benteng Kuto Besak semakin menghanyutkan. Gemerlap Lampu taman, gedung-gedung di kejauhan, lampu yang menghiasi Jembatan Ampera serta lampu dari kapal-kapal yang berlalu lalang di tengah Sungai Musi terlihat semakin indah saat dipantulkan oleh air sungai.

Suasana yang sangat romantis tersebut akan lebih terasa jika dinikmati di atas permukaan air dengan menyewa kapal dari para nelayan. Dengan harga sewa sebesar Rp.50.000 pengunjung sudah bisa berkeliling Sungai Musi dengan menggunakan kapal.

kuliner indah
Kuliner tepi Musi. Image via: bulletinmetropolis.com

Objek Wisata Dekat Benteng Kuto Besak

Bagi pengunjung yang berasal dari laur kota, apalagi luar pulau, hanya menikmati satu objek wisata saja tentulah terasa kurang. Untuk itu ada beberapa tempat lain di dekat lokasi ini yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi.

Untuk yang memang tertarik dengan wisata bernuansa kebudayaan dan sejarah, pilihan tersedia dengan mengunjungi Museum Balaputradewa yang jauhnya kurang dari 3  km. Atau bisa juga mengunjungi Baba Ong Boen Tjit House dan Pulau Kemaro yang jauhnya sekitar 8 km. Dan tentu saja yang harus dipastikan tidak terlewat adalah melewati senja di Jembatan Ampera, dengan jarak hanya 8 km.

Bagi yang berkeinginan wisata religi dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, dapat melakukan kunjungan ke Alquran Raksasa di Pesantren IGM Al Ihsaniyah yang berjarak 11 Km. Atau bisa juga ke Mesjid Agung Palembang yang jauhnya 7 km.

Sementara bagi yang berkeinginan membuat foto foto cantik,  bisa pula dilakukan di dekat area ini Tepatnya di studio 3D G Art Studio. Tempat ini berlokasi di Gramedia World lantai 2. Jauhnya sekitar 5 km saja.

Seperti itulah kira-kira informasi seputar keindahan Benteng Kuto Besak Palembang, Lokasi, Kumpulan Foto, struktur bangunan, dan aktivitas menarik. Moga saja dapat dijadikan referensi wisata ketika berlibur. Jika dirasa artikel ini memberikan manfaat bagi sobat, maka tidak salah untuk membaca artikel lain di situs nativeindonesia.com seputar objek wisata, wisata kuliner serta daftar hotel di berbagai daerah, terimakasih.

Benteng Kuto Besak, Jejak Perjuangan Melawan Penjajahan
4.6 (92%) 5 vote[s]

Share artikel ini!
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Previous

Bukit Siguntang, Wisata Sejarah Unik Di Palembang

Pulau Kemaro, Ketika Cinta Menyatukan Perbedaan

Next

Artikel Wisata Lainnya

Leave a Comment