Desa Budaya Pampang, Time Capsule Adat Kenyah Tanah Borneo

Desa Budaya Pampang merupakan pemukiman dayak yang melestarikan budaya asli Borneo, Kalimantan Timur. Di mana masyarakat Apokayan dan Kenyah sebagai sub-suku Dayak  tinggal di sekitar rumah Lamin yang merupakan arsitektur tradisional untuk berbagai kegiatan budaya asli.


Desa Budaya Pampang desa budaya dayak di kalimantan timur
Desa Budaya Pampang. Image via: kaltimprov.go.id

Sejarah Desa Budaya Pampang

Desa Pampang merupakan situs budaya Kalimantan Timur, tempat tinggal suku Dayak Kenyah setelah bermigrasi pada tahun 1960an dari tempat asli mereka di dataran tinggi Apo Kayan, dekat perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Konon perpindahan mereka ini disebabkan karena ada aksi Ganyang Malaysia pada tahun 1963 – 1966. Perang yang berkecamuk menyebabkan kehidupan mereka menjadi tidak menentu. Hingga akhirnya mereka meninggalkan tanah mereka. Mereka berjalan menuju wilayah baru, demi kehidupan yang lebih baik.

Sebelum akhirnya menetap di kawasan Pampang, mereka menempuh perjalanan dengan berpindah-pindah tempat, selama bertahun-tahun. Sembari membuka lahan untuk bertani, demi bertahan hidup.

Berjarak sekitar 23 kilometer dari pusat kota Samarinda, melalui jalan yang menghubungkan Samarinda dan Bontang, Desa Pampang diresmikan sebagai desa budaya pada bulan Juni 1991.

Rumah Lamin, rumah adat kalimantan di desa budaya Pampang
Rumah Lamin. Image via: jurnalsumatra.com

Simak juga: Wisata di Samarinda

Lokasi Desa Budaya Pampang

Desa Budaya Pampang Kalimantan Timur, ada di Sungai Siring, Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Lokasi ini terbilang sangat dekat dengan Ibu Kota Provinsi Samarinda. Untuk menuju kawasan ini, pengunjung harus melaksanakan perjalanan dengan jarak sekitar 23 Km dari pusat Kota Samarinda.

Rute Menuju Desa Budaya Pampang

Letaknya tidak terlalu sulit diakses, berada di kiri jalan poros sebelum sampai ke Bandara Sungai Baru. Kualitas jalan sudah cukup bagus, terdiri dari jalan aspal dan jalan beton.

Dari kota Samarinda perjalanan bisa dimulai dengan memasuki l Jl. Pahlawan. Pada pertigaan Greja Bethani Samarinda, piIih jalan ke arah  Jl. Sutomo ke  lanjutkans ampai di tugu Parasamya Purna . Pada perempatan besar ini ambil belok kanan, masuk ke jalan Mayjen S. Parman.

para warga senior di desa budaya pampang ikut menjaga peradaban dayak
Para senior. Image via: thejournale.com

Setelah sampai di Perempatan Besar Kantor Mandiri Syariah, ambil ke arak Kiri, memasuki Jalan Bontang-Samarinda. Ikuti terus jalan itu sepanjang kurang lebih 10 km. Ketika bertemu perempatan Jalan Pampang Muara, pilih belok kiri masuk ke jalan Pampang Muara. Hingga menemukan perempatan Yang ada toko Pampang Meubelnya.

Pada perempatan ini ambil arah kanan, memasuki jalan Wisata Budaya Pampang. Dari perempatan ini jarak taman bdaya sekitar 1.5 km lagi.

Jam Buka Desa Budaya Pampang

Desa Budaya Pampang dibuka untuk kunjungan umum setiap hari mulai jam 14.00 sampai jam 17.00

Tiket Desa Budaya Pampang

Untuk menikmati kunjungan penuh keelokan budaya lama ini pengunjung diminta membayar tiket berfoto sebesar Rp 25.000.

harga tiket masuk ke desa budaya pampang ini relatif murah, yakni Rp 15.000. Ini sudah termasuk biaya parkir. Ada biaya tambahan kalau bawa handy cam atau kamera DSLR, yakni sebesar Rp 50.000.

Sedangkan jika ingin berfoto dengan salah satu warga masyarakat adat yang mengenakan pakaian adat, pengunjung dikenakan biaya tambahan.

pengunjung bisa ikut aktif menarikan tarian tradsional dayak di desa budaya pampang
Ikut nimbrung. Image via: http://cintanegeri.com/pesona-indonesia-desa-budaya-pampang/

Simak juga: Desa Tradisional Penglipuran Bali

Fasilitas Desa Budaya Pampang

Fasilitas yang tersedia di desa budaya pampang ini tempat berupa parkir yang luas. Fasilitas ini hanya untuk motor dan mobil. Karena gerbang masuk yang kecil,  mini bus dan Bus parkir di depan gerbang. Fasilitas lain tersedia juga Toilet yang cukup bersih, tempat sampah.

Di lokasi ini ada fasilitas penjualan souvenir. Pengunjung bisa membeli souvenir berupa manik-manik  asli buatan penduduk dayak lokal. Mulai dari gantungan kunci, gelang, kalung  bahkan sampai tas.

Aktivitas Menarik di Desa Budaya Pampang

  1. Arsitektur Tradisional

ornamen tradisional rumaha dat lamin di desa budaya pampang
Ornamen rumah. Image via: flickr.com

Sesampai di Desa Budaya Pampang, suasana khas Suku Dayak, akan langsung terasa. Seperti, rumah-rumah khas Suku Dayak yang material utama adalah kayu. Bentuk rumah khas ini juga unik sebab memanjang ke arah belakang. Di antara bangunan itu yang terbesar adalah Rumah Adat Lamun Paming Adat Tawai.

Rumah Adat Lamun Paming Adat Tawai megah terbuat dari kayu Ulin dan seluruh dinding rumah penuh dengan lukisan dan ukiran khas Dayak dengan warna dominan hitam, putih dan kuning. Tiang penyangga rumah setinggi dua meter dan atap dihiasi dengan kayu yang diukir indah di tengah dan di setiap sudut.

Sebuah tangga untuk menaiki rumah yang terbuat dari kayu. Bentuk tangga tidak berbeda antara rumah bangsawan dan rakyat jelata. Patung Blontang di sekitar rumah itu menggambarkan para dewa sebagai penjaga rumah atau lingkungan sekitar.

Akhir atap rumah dihiasi dengan kepala naga sebagai simbol keagungan dan kepahlawanan. Rumah panggung setinggi 3 meter sampai 5 meter dengan dinding berbentuk papan kayu dan di bagian bawah rumah berfungsi untuk ternak. Bagian paling belakang yang digunakan sebagai tanaman penyimpanan dan alat pertanian disimpan di tempat yang sama.

Tata letak lamin rumah berbentuk panjang. Bagian depan rumah adalah Bale-bale untuk menerima tamu atau tempat berkumpul saat pertemuan kerabat. Rumah Dayak biasanya ditempati oleh beberapa keluarga, dalam satu keluarga dimana masing-masing keluarga memiliki kamar pribadi.

  1. Aksesoris Tubuh

telinga panjang masih menjadi tradisi masyarakat adat di desa budaya pampang
Telinga panjang. Image via: travel.kompas.com

Simak juga: Istana Pagaruyung

Hal unik yang bisa diketemukan di lokasi ini adalah penduduk desa masih setia mempertahankan aturan adat soal cara berpakaian dan aksesoris. Baik penduduk perempuan maupun penduduk pria.

Laki-laki di Desa Pampang membuat tato berpola tanaman dan hewan untuk menunjukkan posisi strata sosial. Wanita tua masih memegang tradisi Mucuk Penikng yang merupakan telinga yang memanjang. Proses memanjang telinga dilakukan sejak lahir.

Diantara orang Dayak Kenyah, memanjang telinga dilakukan dengan menggunakan gelang logam atau gasing berukuran kecil. Pemberat logam akan terus memanjangkan telinga hingga beberapa sentimeter.

Di beberapa daerah, telinga panjang berfungsi sebagai identitas untuk menunjukkan umur pemilik telinga. Bobot manik-manik yang diberikan kepada bayi lahir dan jumlah manik-manik yang menempel di telinga akan meningkat satu per tahun.

Pengunjung bisa berfoto bersama dengan salah satu masyarakat adat dengan pakaian tradisional mereka. Untuk berfoto dengan menggunakan pakaian adat, pengunjung dikenakan biaya tambahan Rp 25.000. Untuk berfoto dengan nenek telinga panjang, dikenakan biaya Rp 50.000.

  1. Pentas Budaya

tari perang, salahs atu tarian tradsional dayak yang sering dipentaskans etiap hari minggu di desa budaya pampang
Tari Perang. Image via: pedomanwisata.com

Secara rutin setiap pekan masyarakat lokal Desa Pampang menggelar pertunjukan tarian adat Suku Dayak. Bagi pengunjung yang ingin menikmati sajian tarian adat tersebut bisa datang hari Minggu atau sehari sebelumnya. Pagelaran tari ini hanya digelar setiap hari Minggu dari pukul 14.00 – 15.00.

Tarian adat Suku Dayak ini digelar di rumah adat yang disebut Lamin Adat Pamung. Pengunjung dapat menyaksikan pagelaran tari Tari Bangentawai, Kanjet Anyam Tali, Ajay Pilling, Kancet Lasan, Hudoq, Kancet Punan Lettu, Kancet Lasan, dan Nyalama Sakai.

Saat tarian akan dipertontonkan, pengunjung akan lebih dulu mendapat penjelasan mengenai makna dari tarian yang akan dilaksanakan. Jadi, para pengunjung tidak perlu khawatir terhambat menikmati keindahan tarian karena belum memahami makna dibalik setiap tarian.

tari Pebekatawai sebagai ucapan selamat datang dalam budaya dayak sering dipentaskan pada desa budaya pampang
Tari Pebekatawai. Image via: kalimantanberita.com

Simak juga: Kampung Naga Tasik

Tari Pebeketawi dalam bahasa lokasl artinya tari persaudaraan. Dengan tarian tersebut masyarakat adat berharap persaudaraan bisa dipererat. Melalui tarian tersebut, Suku Dayak Kenyah di Nunukan berharap bisa mempererat tali persaudaraan dengan para tamu yang berkunjung ke Perkampungan Dayak kenyah.

Setiap tahun masyarakat setempat menggelar Pelas Tahun sebagai perayaan ulang tahun pembentukan desa. Ada juga upacara ritual Junan, yang merupakan tradisi ratusan tahun untuk mengambil gula dari tangkai tebu yang diperas menggunakan kayu ulin.

Generasi Muda Dayak Kenyah, penerus peradaban dayak di desa budaya pampang.
Generasi Muda Dayak Kenyah. Image via: kaskus.co.id

Objek Wisata Dekat Desa Budaya Pampang

Selain wisata budaya di desa budaya pampang, berkunjung ke Samarinda juga memiliki alternatif objek wisata lain. Yang paling dekat dengan kota samarinda adalah Teluk Lerong Garden.

Dari desa budaya lokasi wisata ini berjarak hanya 26 km. Walau namanya Teluk, sama sekali tidak ada berhubungan dengan laut. Objek wisata ini adalah Taman kota yang terletak di tepi sungai Mahakam. Keberadaan lampion aneka bentuk membuat taman ini indah untuk dinikmati saat hari telah gelap.

Bagi yang ingin mengunjungi wisata alam alami, bisa mencoba air terjun Berambai. Berjarak hanya 18 m dari desa budaya, air terjun ini memiliki aliran air yang jernih. Selain itu, terdapat wahana outbound dan camping dengan kondisi hutan yang masih alami. Selain air terjun, tempat wisata tersebut juga memiliki hutan lebat yang masih asri.

Demikian sedikit pemaparan kami mengenai desa budaya dari salah satu suku tertua di Indonesia ini. Semoga dengan dukungan kita semua keberadaan adat dan budaya itu tetap terjaga tentu tanpa menyebabkan penduduk lokal itu terhambat kemajuan kesejahteraan mereka.

Karena itu berkunjung ke lokasi ini sangat berarti bagi diri kita sendiri maupun bagi pelestarian adat istiadat asli nusantara. Selamat berwisata.

Baca juga:

Artikel lainnya:

Leave a Comment