Desa Sawai, Surga Tersembunyi di Taman Nasional Manusela

Di bawah lazuardi, perairan laut dengan gradasi warna berlatar perbukitan nan menjulang di sekitar Desa Sawai begitu memesona. Surga tersembunyi di kawasan Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku ini masih terawat dengan baik dan alami.


Di bawah lazuardi, perairan laut dengan gradasi warna berlatar perbukitan nan menjulang di sekitar Desa Sawai begitu memesona
Desa Sawai. Image via: Sapril Sahaka

Lokasi Desa Sawai yang berada di teluk membuat kawasan lautnya cenderung jernih, tenang dan tak berombak. Kedalamannya pun hanya sebatas pinggang orang dewasa. Lanskap laut berwarna biru kehijauan sempurna dengan hamparan koral yang dikelilingi ikan-ikan kecil dan beragam biota laut.

Luas Desa Sawai sendiri mencapai 15 hektar dengan jumlah penduduk sekitar 4.000 jiwa. Desa dibelah oleh sungai unik yang sering disebut sungai keramik. Desa Sawai menyimpan banyak keindahan alam. Di antaranya terumbu karang di laut yang masih bersih dan belum tercemar limbah perkotaan.

Secara kebudayaan, Desa Sawai banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan Arab. Musik gambus, baju gamis, bahkan banyak warga desa yang memiliki hidung mancung dan wajah seperti orang Arab. Kentalnya nuansa Islam juga terasa saat magrib tiba.

Terdapat sebuah bukit yang dinamakan bukit bendera. Dari atas bukit bendera, pengunjung dapat melihat pemandangan Laut Seram yang menakjubkan. Desa Sawai ini memang lengkap. Indah dan menenangkan.

Pesona Desa Sawai dengan laut jernih dan pegunungan elok membingkainya
Pesona Sawai. Image via: r3pellent

Simak juga: Informasi Hotel di Ambon Maluku

Lokasi Desa Sawai

Lokasi indah desa sawai secara administratif berada di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah.

Desa ini merupakan sebuah dusun yang lokasinya cukup dekat dengan TNM, yang diapit oleh pegunungan dan laut. Desa Sawai menjadi bagian dari TNM, termasuk lima dusun lain. Kelima dusun tersebut adalah Olong, Opin, Rumaolat, Besi, dan Masihulang.

Rute Menuju Desa Sawai

Bila ingin pergi ke Desa Sawai, pengunjung harus menggunakan segala moda transportasi. Pertama, dengan moda udara terbang dengan pesawat ke bandara Pattimura, Ambon. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan mobil taksi menuju pelabuhan Tuleha.

Dari pelabuhan Tuleha, pengunjung bisa naik kapal ferry ke Pelabuhan Amahai di Pulau Seram yang merupakan pulau terbesar di provinsi Maluku. Perjalanan berikutnya dari Amahai bisa ditempuh dengan transportasi umum maupun rental mobil.

Penginapan di Sawai unik karea terletak di atas perairan pantai
Penginapan Desa Sawai. Image via: medium.com

Karena jalanan yang belum mulus, perjalanan ini akan menempuh waktu sekitar tiga jam hingga pengunjung sampai di Horale, daratan terakhir sebelum mencapai Sawai. Dari Horale ke Sawai, pengunjung bisa menggunakan perahu nelayan.

Sungguh perjalanan yang jauh dan melelahkan. Namun semua itu terbayar dengan indahnya pemandangan yang ditawarkan oleh Sawai.

Jam Buka Desa Sawai

Desa ini buka 24 Jam

Tiket Desa Sawai

Tidak ada pungutan berupa karcis untuk masuk ke desa Sawai. Biaya yang diperlukan hanya sebatas biaya transportasi saja.

Fasilitas Desa Sawai

Di Desa Sawai terdapat fasilitas berenang. Pengunjung bisa snorkeling sambil melihat biota laut atau bisa juga trekking ke Taman Nasional Manusela, Bukit Bendera. Pengunjung bisa menyewa pemandu lokal untuk mengantarkan ke Bukit Bendera.

Desa Sawai ini juga tersedia banyak fasilitas penginapan yang cukup terjangkau yaitu berkisar Rp 250.000 per-malam.

Daya Tarik Desa Sawai

  1. Desa Tertua

Desa sawai diyakini oleh sejarawans ebagai salah satu  Tertua di Seram
Desa Tertua di Seram. Image via: kotakpermen.com

Simak juga: Pulau Angso Duo

Desa Sawai merupakan desa wisata yang berada di kawasan Taman Nasional Manusela. Sebagian besar laut yang ada di desa ini masih alami dan terawat dengan baik. Sawai termasuk desa tertua di Maluku yang dikelilingi oleh pulau-pulau kecil.

Tidak ada literatur resmi yang menceritakan asal mula Desa Sawai. Namun, menurut cerita penduduk lokal, Desa Sawai pertama kali dibangun oleh para pedagang Arab yang datang ke pulau Seram jauh sebelum Spanyol, Portugis maupun Belanda datang ke Maluku.

Hal inilah yang menyebabkan bila kebudayaan masyarakat Sawai mendapat pengaruh dari kebudayaan Arab.

  1. Laut bak Kolam Renang

Laut desa sawai yang tenang dan landai membuatnya setenang kolam renang taman
Laut setenang kolam. Image via: kaskus.co.id

Lokasi Sawai yang berada di teluk menyebabkan lautnya cenderung tenang, jernih dan tidak berombak. Berbeda dengan laut pada umumnya, Laut Sawai rata-rata kedalamannya hanyalah sebatas pinggang orang dewasa.

Warna biru kehijauan yang membentang ditambah hamparan koral membuat Laut Sawai begitu sempurna. Karena airnya yang selalu tenang, Laut Sawai bagaikan sebuah kolam renang raksasa.

Ikan-ikan kecil dan biota laut yang masih terjaga alami menjadi hiasan indah kolam renang raksasa ini. Berenang dan bersantai di Laut Sawai sembari menunggu senja adalah agenda wajib yang sayang bila dilewatkan.

  1. Air Asinahu

Sungai Keramik membelah di tengah tengah desa sawai
Sungai Keramik Desa Sawai. Image via: indonesiakaya.com

Simak juga: Jernihnya Taman Sungai Mudal

Tak hanya laut, Desa Sawai juga dikelilingi oleh sungai yang jernih yang menjadi pusat kegiatan masyarakat. Sungai di desa ini diberi nama Air Asinahu karena konon zaman dahulu air sungai tawar sering tercampur oleh air laut yang sedang pasang.

Air Asinahu bersumber dari bebatuan di daerah tebing menuju hutan yang berbatasan langsung dengan desa Sawai. Pinggiran sungai Air Asinahu seluruhnya dilapisi keramik. Hal ini sering memebuat sungai ini disebut pula dengan Sungai keamik.

Bila dilihat, sungai ini mirip dengan tempat pemandian umum. Banyak warga yang melakukan aktivitas di pinggiran sungai, mulai dari mandi, mencuci baju, hingga bermain air. Meskipun demikian, sungai Air Asinahu tetaplah jernih.

  1. Penduduk yang ramah

Anak-Anak Desa Sawai tampang riang bermain di dermaga desa
Anak-Anak Desa Sawai. Image via: indonesiakaya.com

Penduduk desa Sawai mayoritas bekerja sebagai nelayan. Tak hanya mencari ikan dengan memancing, namun mereka juga melakukan tradisi Kalawai. Kalawai adalah cara menangkap ikan menggunakan tombak yang umumnya dilakukan pada malam hari.

Selain sebagai nelayan, ada juga penduduk yang berkebun palawija dan buah-buahan.

Sempatkan untuk berkeliling desa dengan berjalan kaki. Pengunjung akan kagum dengan keramahan para penduduk desa. Mereka sudah tidak asing lagi dengan kedatangan wisatawan. Tidak jarang penduduk setempat menawari pengunjung ikan hasil tangkapan para nelayan saat sedang berjalan-jalan.

  1. Spot Snorkeling mirip Ha Long Bay

wilayah pantai desa sawai mengingatkan pada Ha long Bay di vietnam
Serasa Ha long Bay Vietnam. Image via: satyawinnie.com

Simak juga: Embung Kledung

Tidak seperti di lokasi lain di Maluku atau pulau-pulau yang memiliki keindahan biota bawah laut, di Sawai ini tak memiliki dive spots cantik. Namun ada yang mengatakan, Sawai belum banyak diekplorasi pesona alam bawah lautnya.

Di Sawai ini belum ada tempat penyewaan gear dive. Meski begitu, pengunjung masih bisa snorkeling. Sebetulnya ada alternatif lain jika ingin diving dan mencari spot yang cantik di Sawai ini. Caranya, bisa saja sewa kapal dan peralatan diving dari Ambon lalu membawanya ke Sawai.

Saat di Sawai, pengunjung bisa snorkeling di beberapa spot. Salah satu spot di Tebing Batu. Tebing Batu Sawai adalah tebing dengan dinding vertikal. Oleh penduduk setempat biasa disebut Hatupia. Di tebing batu ini biasanya pengunjung berhenti beberapa lama untuk menikmati pemandangan bawah laut.

Selain Hatupia, pengunjung juga bisa snorkeling di area batu yang licin dan gundul. Dalam bahasa lokal biasa disebut Hatu Supung. Sebagian orang yang pernah ke Sawai mengatakan, lokasi Hatu Supung ini mirip Ha Long Bay yang ada di Vietnam. Hanya saja di Ha Long Bay berbentuk batu raksasa dan berdiri sendiri, sedang Hatu Supung bersatu dengan bukit sekitarnya.

  1. Penginapan di Atas Laut

Penginapan iconic desa sawai yang berada di atas air
Penginapan atas laut. Image via: satyawinnie

Terdapat  bangunan-bangunan sederhana yang terbuat dari kayu di ujung teluk pantai. Bangunan-bangunan ini membentuk rumah panggung, sebagaimana terlihat di setiap wilayah pesisir. Tak banyak aktivitas di rumah panggung itu. Hanya satu-dua perahu hilir mudik di sekitar teluk kecil itu.

Rumah panggung ini adalah penginapan. Namanya Pondok Wisata Lisar Bahari. Penginapan ini dimiliki oleh warga setempat. Inilah penginapan yang sempat diinapi aktor Nicholas Saputra. Meski terdapat penginapan “elite” di Kepulauan Seram, tetapi Nicholas lebih memilih penginapan Lisar Bahari ini.

Boleh jadi bintang film Ada Apa Dengan Cinta ini lebih suka tinggal di penginapan ini karena letaknya di tengah antara perkampungan dan laut di Sawai. Pemilik sudah lama membangun penginapan di Desa Sawai, yakni sejak 1990.Penginapan ini menyedot wisatawan sebanyak 500 orang setiap tahun. Mayoritas wisatawan berasal dari mancanegara.

pesona Alam desa Sawai
Alam Sawai. Image via: r3pellent

Simak juga: Air terjun sigura-Gura

Objek Wisata Dekat Desa Sawai

Desa Sawai berdekatan dengan Taman Nasional Manusela. Taman Nasional ini terdapat sekitar 117 spesies burung, 14 di antaranya endemik, seperti Nuri Bayan, Kasturi tengkuk-ungu, Kakatua Maluku, Todiramphus lazuli, Todiramphus sanctus, Philemon subcorniculatus dan Alisterus amboinensis.

Taman Nasional Manusela merupakan perwakilan tipe ekosistem pantai, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan di Maluku. Tipe vegetasi yang terdapat di taman nasional ini yaitu mangrove, pantai, hutan rawa, tebing sungai, hutan hujan tropika pamah, hutan pegunungan, dan hutan sub-alpin.

Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk mempersiapkan kunjungan ke Desa Sawai di Maluku.

Selamat Berlibur.

Baca juga:

Artikel lainnya:

Leave a Comment