Alun-Alun Kidul, Objek Wajib Saat Mengunjungi Jogja

Sebagai salah satu icon Yogyakarta, Alun-Alun Kidul merupakan salah tujuan wisata favorit wisatawan. Alun-alun Kidul merupakan tempat yang wajib dikunjungi bagi para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta, sebelum kembali pulang, membawa cerita ke daerah asalnya masing-masing.

Sebagai salah satu icon Yogyakarta, Alun-Alun Kidul merupakan salah tujuan wisata favorit wisatawan.
Alun-Alun Kidul. Image via: unycommunity.com

Pada jaman dahulu Alun-alun Selatan digunakan untuk berbagai keperluan yang menyangkut kepentingan Karaton Yogyakarta. Salah satunya digunakan untuk berlatih bagi para prajurit karaton menjelang upacara Garebeg.

Alun-alun Selatan atau disebut juga Alun-alun Pengkeran dahulu sangat sepi, menakutkan, angker, sekarang sudah berubah menjadi tempat yang ramai, bersih, terang, dan menjadi kawasan wisata di dalam benteng karaton yang bernuansa spiritual kultural.

Walaupun tempatnya sudah banyak berubah seperti sekarang, tentunya ada ciri khusus atau makna yang mendalam yang masih abadi. Yang masih tetap ada yaitu pohon beringin (ringin wok), pohon beringin Supit urang, pohon pakel, pohon kweni, serta pohon gayam.

Semuanya pohon itu mengandung perlambang kehidupan masyarakat Jawa. Remaja yang menginjak dewasa, akil balik, sudah berani memanahkan isi hati di antara jejaka dan gadis. Juga mengandung makna harus selalu dapat menjaga ketenteraman, kedamaian, perlindungan, dan selalu mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata yang manis dan indah.

3 Gajah Sultan saat Garebeg di Alun LAun Kidul.
3 Gajah saat Garebeg. Image via: visitingjogja.com

Simak juga: 66 lokasi wisata di Jogja

Lokasi Alun-Alun Kidul

Lokasi Alun-Alun Kidul tepatnya berada di Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lokasi wisata ini berada dekat dengan malioboro, kraton,Alun-alun utara, tamansari. Lokasi Wisata Malam Alun-alun Selatan Jogja sangat terjangkau dan mudah dicapai melalui berbagai arah.

Rute Menuju Alun-Alun Kidul

Jarak dari pusat kota Yogyakarta ke Wisata Malam Alun-alun Selatan Jogja sangat dekat yaitu sekitar 1,7 kilometer dan waktu tempuh normal kendaraan bermotor dari Kota Jogja menuju Wisata Malam Alun-alun Selatan Jogja sekitar 5 menit saja.

Rute menuju Lokasi Wisata Alun-alun Kidul Jogja sangat terjangkau dan mudah ditemukan. Jalan yang dilalui untuk bisa ke Alun-alun Selatan Jogja ini juga sudah layak untuk dilewati. Jika memulai perjalanan dari pusat 0 km kota Yogyakarta ke selatan melewati jl. pangurakan.

Berwisata saat Malam di Alun-Alun Kidul sungguh menyenangkan.
Malam di Alun-Alun Kidul. Image via: visitingjogja.com

Sampai perempatan belok ke timur melewati jl alun-alun utara lurus terus sampai melewati jln. ibu ruswo. Sampai perempatan belok ke selatan melewati jln. wijilan lurus terus sampai melewati jln. panembahan mangkurat sampai perempatan belok ke barat melewati jln. langenastran lor, lurus terus sampai pertigaan ke selatan. Maka pengunjung sudah sampai ke Wisata Alun-alun Kidul Yogyakarta.

Jam Buka Alun-Alun Kidul

Lokasi wisata bersejarah namun tidak seram ini, terbuka 24 jam untuk dikunjungi pleh apra wisatawan. Dengan demikian, pengunjung bisa bebas mengagendakan kunjungannya ke Alun-Alun Kidul di sela petualangan budaya di Malioboro dan sekitarnya.

Unutk pengalaman maksimal. sangat disarankan datang pada sore hari. Atmosfer yang berbeda akan tampak di alun-alun menjelang sore hari. Terutama ketika Para pedagang mulai bermunculan menata dagangan.

Tiket Alun-Alun Kidul

Untuk menikmati Suasana malam nan syahdu di Alun-alun Kidul Jogja, saat ini masih belum dikenakan biaya alias gratis. Dengan begitu pengunjung dapat dengan leluasa menikmati malam yang indah di Alun-alun selatan sambil makan di warung makanan sekitarnya.

Odong-Odong Alun-Alun Kidul dengan berbagai fariasi dekorasi
Odong-Odong Alkid. Image via: @wilda_29 

Simak juga: Bukit Parang Endog, Menara Pandang Alami di pantai Selatan 

Walaupun tidak dikenakan biaya tetapi bagi pengunjung yang membawa kendaraan dikenakan pungutan biaya parkir. Untuk kendaraan roda dua sebesar Rp. 2000 dan untuk kendaraan mobil Rp. 5000.

Fasilitas Alun-Alun Kidul

Bagi pengunjung Alun-Alun Kidul tidak perlu khawatir jika tiba-tiba ingin buang air. Di Alun-Alun Kidul sudah tersedia sarana dan prasarana. Dari toilet umum, halte, parkir, dan fasilitas umum lainnya. Disekitar Alun-Alun Kidul tersedia penginapan dari harga ekonomis sampai kelas bisnis.

Daya Tarik Alun-Alun Kidul

Semakin banyaknya pengunjung di Alun-Alun Kidul membuat pedagang semakin kreatif menyajikan beragam jenis dagangan.  Pengunjung akan berlama-lama menghabiskan malam di Alun-Alun ini. Semarak lampu lampion dan berbagai jenis hiburan membuat mata selalu terjaga. Berikut beberapa hal menarik mengenai Laun-Alun Kidul.

  1. Sejarah Alun-Alun Kidul

Suasana ALun-ALun Kidul disekitar tahun 1857
Di tahun 1857. Image via: wikipedia.org

Alun-alun Kidul atau disebut Alun-alun Pengkeran berseberangan dengan Alon-alun Lor  atau Alun-alun Utara, dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada masa pemerintahannya tahun 1755 -1792 M. Sejak jaman dahulu jalan keluar masuk Alun-alun Selatan yang berjumlah 7 buah, masih tetap letaknya.

Di tembok sebelah selatan, di tengah-tengahnya ada jalan masuk ke arah utara selatan, disebut Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gadhing. Pagar tembok sebelah timur  ada jalan keluar ke arah timur disebut Jalan Langenarjan di sebelah utara dan Jalan Langenastran di sebelah selatan.

Ke arah utara sebelah barat dan timur Siti Hinggil ada Jalan Pamengkang, dua-duanya menuju ke arah Kagungan Dalem Kamandhungan Kidul. Di pagar tembok sebelah barat juga ada dua jalan keluar yaitu Jalan Ngadisuryan di sebelah utara dan Jalan Patehan di sebelah selatan.

Di antara kedua jalan tadi ada kandang gajah dengan tiga buah tiang untuk mengikat gajah, sebab pada jaman dahulu gajah milik raja ada tiga ekor. Di dalam kandangnya gajah itu tidak diikat, setiap ada grebeg gajah itu dirias dan dikeluarkan di Alun-alun Utara.

Pada jaman dahulu di Alun-alun Selatan ada Palenggahan Dalem Gilang yang terletak di Tratag Rambat. Letaknya di depan Siti Hinggil berupa pasangan batu bata yang sekarang diganti ubin. Tempat ini merupakan tempat duduk raja apabila menyaksikan gladhen (latihan) para prajurit.

  1. Beringin Kembar

Beringin Kembar maskot alun-alun kidul.
Beringin Kembar. Image via: quizly.id

Simak juga: Bukit Tuamese, Rasa Raja Ampat di Pulau Timor

Salah satu daya tarik yang membuat orang datang ke Alun-Alun Kidul adalah adanya mitos beringin kembar. Yaitu mitos siapa saja yang berhasil berjalan di antara dua beringin dengan mata tertutup, maka konon keingin dan hajatnya akan terkabul. Ritual mitos ini disebut Masangin.

Meskipun terdengar mudah, ternyata banyak juga yang gagal lho. Tidak sedikit juga banyak yang sudah berkali-kali mencoba dan berhasil, namun ketika kembali ke Alun-Alun Kidul, tetap saja penasaran untuk mencobanya kembali.

Tradisi Masangin sendiri sudah ada sejak zaman dulu saat Kesultanan Yogyakarta masih Berjaya. Alanya Masangin dilakukan saat tradisi topo bisu yang dilakukan setiap malam 1 suro. Tradisi Topo Bisu dilakukan oleh para prajurit dan abdi dalem dengan mengelilingi benteng tanpa mengucap satu katapun.

Para prajurit dan abdi dalem dengan mengenakan pakaian lengkap adat jawa berbaris rapi. Mereka memulai ritual Topo Bisu dari halaman Keraton menuju pelataran alun-alun lalu melewati kedua beringin kembar tersebut. Hal tersebut diyakain untuk mencari berkah dan meminta perlindungan dari serangan musuh.

Dari situlah mitos Masangin berkembang. Jika kita dapat melintasi dua pohon beringin dengan mata tertutup, maka semua apa yang kita inginkan akan terkabul.

Mitos ini menjadi daya tarik pengunjung yang ingin mebuktikan kebenarannya. Terlepas dari mitos,aktivitas ini mendatang rejeki bagi pedagang sekitar Alun-Alun Kidul. Jika tidak membawa penutup mata, disini ada jasa sewa penutup mata dengan tarif Rp.  5.000,-.

  1. Naik kereta hias

naik kereka hias mengelilingi alun-alun kidul sungguh pengalaman yang menyenangkan.
Kereta Hias Alkid. Image via: eibidiei

Saat jam menunjukkan pukul 18.30, Alkid sebutan lain dari Alun-alun Kidul mulai dipenuhi dengan lampu berwarna-warni dari kereta hias. Berbagai bentuk kereta hias mulai bermunculan seakan menyapa wisatawan. Dentuman musik keras yang berasal dari kereta hias Alun-Alun Kidul.

Kereta hias, ada di Alun-alun Kidul sejak tahun 2013. Penciptanya adalah kusir andong yang kemudian beralih profesi menjadi tukang becak. Mereka itu ingin mengubah wahana agar kapasitas bisa lebih banyak. Lalu muncul kereta hias. Berhubung malam kan pakai lampu.

Dari segi harga, seluruh kereta hias dipatok dengan harga serupa sesuai dengan kesepakatan kelompok operator. Sekali naik variasi dari Rp30 ribu dan maksimal tidak boleh lebih dari Rp100 ribu. Itu harga berbeda karena tergantung situasi.

Kalau liburan bisa sampai Rp50 ribu maksimal Rp100 ribu. Tapi hari-hari biasa antara Senin sampai Kamis itu Rp30 ribu sampai Rp50 ribu.

Selama menyewa Kereta Hias, pengunjung diajak satu putaran tapi bisa lebih, secapeknya. Hanya kalau sampai berhenti terus makan tidak boleh. Kalau jalannya pelan boleh. Terus kalau berhenti dan foto-foto juga tidak dilarang.

  1. Wisata Kuliner Malam Hari

Penjual Ronde di Alun-Alun Kidul.
Ronde Alun-Alun Kidul. Image via: foodgrapher.com

Simak juga: Air Terjun Sidoharjo, tertinggi di Jogja

Menjelang Maghrib, suasana Alun-Alun Kidul berubah menjadi lokasi wisata kuliner. Jumlah lapak dan variasi makanan juga semakin bertambah. Mulai dari nasi goreng, bakmi rebus, ayam, pecel, dan gado-gado tersedia di sini.

Jika tak ingin makan berat, bisa juga mencicipi roti dan jagung bakar dan semangkuk sekoteng atau wedang ronde. Cukup dengan uang Rp 20.000 kita sudah bisa kenyang.

Salah satu yang unik dan khas jogja adalah wedang ronde. Bahkan bukan hanya orang lokal, namun beberapa turis juga terlihat mampir menikmati semangkok ronde di sini. Untuk harganya cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp7.000 per mangkok. Sambil menunggu penjualnya meracik, pengunjung bisa lesehan sambil mengobrol santai dengan teman.

  1. Pertunjukan Wayang

Sasono Hinggil lokais pertunjukan wayang di alun-alun kidul
Sasono HInggi;. Image via: coretanpetualang

Salah satu yang memebuat Alun-Alun selatan keluar dari kesunyian di tahun 1980-an, adalah ketika bangunan Sasana Hinggil Dwi Aabd yang baru, yang letaknya di sebelah utara Alun-alun Selatan digunakan untuk pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Pertunjukan ini diselenggarakan setiap Sabtu malam kedua setiap bulan. Pagelaran ini diadakan oleh kerjasama antara harian Kedaulatan Rakyat dengan TVRI Yogyakarta. Kegiatan itu tetap terlaksana sampai saat ini.

Pada waktu tertentu menjelang upacara Grebeg pengunjung bisa menyaksikan gladi bersih upacara Grebeg. Pengunjung dapat menyaksikan langsung para prajurit keraton latihan di Alun-alun kidul.

Berjalan menutup mata dalam Masangin, melalui beringin kembar alun-alun kidul.
Berjalan menutup mata dalam Masangin. Image via: maioloo.com

SImak juga: Gereja Belenduk di Kota Tua Semarang

ibjek Wisata Dekat Alun-Alun Kidul

Mengenai objek wisata di dekat Laun-Alun selatan tentu sangat banyak. Hampir semua objek wisata utama Yogyakarta berada di sekitar Alun-alun ini.

Yang paling populer tentu saja Keraton Jogja. Kedua objek penting ini hanya terpisah sejauh 1.3 km saja. Dengan tiket masuk yang sangat terjangkau, pengunjung bisa menikmati wisata sejarah di lokasi ini. Selain menikmati gedung dan pusaka keraton, juga bisa berinteraksi langsung dengan para Abdi Dalem yang masih aktif mengabdikan diri untuk melakukan rutinitas harian keraton.

Sedikit lebih dekat, dalam jarak 450 meter, terdapat objek taman Sari. Taman Sari awalnya dibangun sebagai tempat peristirahatan, hiburan, dan meditasi bagi Sultan dan kerabat perempuan Sultan. Kompleks Taman Sari ini merupakan satu kesatuan bangunan yang indah terdiri dari kolam besar dan kecil, kanal air, ruang ibadah, tempat pemandian, pesanggrahan, menara, dan pulau buatan.

Demikianlah sedikit keindahan dari Alun-Alun selatan yang bisa kami gambarkan. Untuk cerita lengkap dan pengalaman utuh, tentu akan sangat menyenangkan jika datang langsung ke lokasi bersejarah namun tidak membosankan ini.

Baca juga:

Leave a Comment